Halaman

Daftar Blog Saya

  • semangatku - ada setitik harapan yang ingin ku ubah jadi sehamparan lautan ada secuil semangat yang ingin ku ubah menjadi segunung impian hmmm, semua inginku hanya mimpik...
    14 tahun yang lalu
  • - Cinta adalah misteri dalam hidupku... yaNg Tak PeRnaH ku Tau akiRnya.. NamUn Tag SePertI cInta Ku Pada DiRimu.. yaNg Harus TergenaPi Dalam kiSah Hidup kU......
    16 tahun yang lalu
  • LUPH - I LOVE FAMILY
    16 tahun yang lalu

Rabu, 16 Mei 2012

Sang Sohib


Sang sohib

Kau sohibku....
Kau baik dari yang terbaik
Selalu ada untukku
Bersedia membantuku

Kau penerang dalam gelap
petujuk di kala sesat
Kau malaikat di kala susah
peri di kala senang

Kau penenang hati resah
Tempat mencurah keluh kesah
Selalu ada disampingku
Setiap saat yang ku mau

Ku menangis kau ikut menangis
Ku tertawa kau juga ikut tertawa
Seakan satu dalam hati
Seakan akan satu dalam jiwa

Kaulah sohib terbaikku....
Takkan pernah lenyap dari hati dan pikiranku....

Karya Evie

Rabu, 09 Mei 2012

My Feature News 2


Bakso Murah tapi Bukan Murahan

Pontianak – Pak de (53), itulah panggilan akrab seorang tukang bakso yang selalu mangkal di Jalan Paris Haji Husin 1. Hampir setiap hari Pak de memarkirkan gerobak tuanya di depan Gang Ilham menunggu pelanggan datang. Ia tidak pernah lelah mendorong gerobak baksonya demi mencari rezeki untuk menghidupi keluarga.
Sore itu hari terlihat sangat bersahabat. Langit begitu tampak cerah meskipun menjelang senja. Langit biru yang menghampar dihiasi sedikit awan putih. Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Pak de pun mulai mempersiapkan segala perlengkapan untuk baksonya. Ia akan segera beranjak dari rumahnya menuju tempat ia mangkal setiap harinya. Pak de kembali lagi dengan aktivitas rutinnya. Rute menuju tempat mangkal tidak begitu jauh. Sekitar 500 meter dari rumahnya. Dengan baju kaos abu-abu yang warnanya sudah memudar dan celana kain hitam, ia berjalan santai sambil mendorong gerobak tuanya menuju tempat mangkalnya. Dengan umur yang sudah tidak muda lagi dan rambut yang sebagian sudah mulai memutih tidak mengalahkan semangatnya untuk mencari nafkah demi anak istrinya.
Darsono atau Pak de adalah seorang penjual bakso keliling yang berasal dari Jawa tengah tepatnya Solo. Ia sudah hampir tujuh tahun tinggal di Pontianak. Pak de tinggal bersama tiga orang anak dan istrinya. Sekarang ia tinggal di sebuah rumah kontrakan di Jalan Parit Haji Husin 1 Gang Sukses no 19. Di rumah yang cukup sempit itulah Pak de dan keluarga hidup bahagia meskipun dengan kehidupan yang apa adanya dan sederhana. Ia adalah orang yang ramah tamah dan mudah bergaul. Berjualan bakso sudah ia lakoni sejak ia kecil bersama bapaknya. “saya sudah berjualan seperti ini semenjak saya masih kecil. Saya bantu-bantu bapak berjualan bakso”, ujarnya sambil mengemas pesanan bakso pelanggannya.
Ia berjalan santai sambil mendorong gerobak baksonya yang siap memanjakan lidah pelanggannya. Sepanjang rute yang ditempuh menuju tempat ia memarkikan gerobak tuanya, ia sudah ditunggu pelanggannnya. Pak de memang sudah dikenal ramai orang khususnya penikmat bakso. Tidak jarang ia dipanggil untuk mampir di salah satu rumah pembeli. Dengan gayanya yang bersahaja, ia langsung memenuhi permintaan pembeli dan melayaninya dengan ramah. Semetara, sudah beberapa orang yang tidak sabar menunggu di depan rumah mereka dengan membawa mangkok. Bahkan, hampir setiap gang ada pelanggan yang selalu menunggu kehadiran bakso Pak de. Hal ini dikarenakan Pak de yang menjual baksonya dengan harga yang murah dan tidak kalah enak dengan bakso-bakso ternama di luar sana.
Harga bakso yang murah dan enak itulah yang memuat Pak de dikenal banyak orang. Harganya bervariasi, sesuai kemampuan pelanggan. Sore itu, sekitar pukul 17.30 saya pulang dari kuliah dan tampak Pak de yang sedang berjalan sambil mendorong gerobak tuanya itu. Saya berhenti berniat untuk membeli baksonya. Sudah terlihat tiga orang yang sedang menunggu baksonya disiapkan oleh Pak de. Ketika ketiga orang itu sudah selesai. Saya mencoba menghampiri, “Pak de bakso satu ya...dibungkus”. Dengan cepat ia menyiapkan bakso pesanan saya. Setelah hampir selesai, dengan medok jawanya ia selalu bertanya “pedas, manis”, yang artinya baksonya itu maunya yang pedas atau manis. Lalu saya pun menjawab dengan cepat “manis Pak de”. Ia pun langsung memasukkan kecap manis.
Berkat keramah tamahan Pak De itulah, pembeli bakso sangat ramai. Ditambah lagi, baksonya yang terasa sangat enak, kalau kata-kata orang sekarang maknyos buaget. Pelanggan Pak de tidak hanya orang-orang dewasa, anak kecil pun tak kalah ramainya. Selain itu, bakso yang Pak de jajakan, tidak seperti bakso-bakso lainnya. Bedanya, bakso Pak de ini terkenal dengan murah dan enak. Tidak jarang pelanggan yang datang membeli dengan harga Rp 3000,00. “Pak de, baksonya tiga ribu aja”, ujar seorang anak kecil yag berumur sekitar lima tahun itu. Ia adalah pelanggan tetap Pak de. Kita bisa bayangkan, masih adakah bakso di luar sana yang semurah itu. Bagi Pak de tetap masih ada. Ia tidak terlalu memikirkan untung ruginya, yang penting ia bisa menjual baksonya dengan laris dan pelanggan pun senang. “ya,,,tidak apa-apalah, daripada bakso saya tidak laku terjual. Alhamdulillah masih ada yang beli meskipun dengan harga seperti itu”, ucapnya dengan medok jawa sambil memberikan bumbu ke dalam bakso pesanan pembelinya itu.
Untuk bakso seharga mahasiswa, biasanya harga Rp 5000,00, itulah yang membuat mahasiswa senang membeli bakso Pak de. Ia mengerti dengan keuangan seorang mahasiswa. “kalau mahasiswa biasanya mereka beli dengan harga Rp 5000,00. Ya..tidak apa-apa ngertilah dengan mahasiswa” ujarnya. “itulah senang beli bakso Pak de, bisa beli dengan harga Rp 5000,00, baksonya enak dan murah, jarang-jarang ada”, tambah seorang mahasiswa yang bernama Nengsih yang baru saja datang menghampiri. Namun, harga standarnya Rp 8000,00. Bakso dengan harga Rp 5000,00 ini tidak kalah dengan bakso-bakso diluar sana. Baksonya juga banyak, bahkan mangkok hampir penuh terisi. Dengan 5 butir pentol dan 1 tahu cukup membuat perut kenyang.
Selama perjalanan sekitar 500 meter itu, pembeli terbilang ramai bahkan hampir belasan orang yang membeli baksonya. Kadang-kadang ia sampai kekurangan waktu untuk melayani pelanggan. Meskipun harus menjual baksonya, Pak de tidak penah lupa menyempatkan diri untuk menjalankan kewajibannya. Sering ia terlihat tergesa-gesa ketika sudah waktunya untuk shalat magrib. Dari Gang Sukses ke Gang Ilham, terdapat Mesjid Baiturrohim. Di mesjid itulah ia menjalankan kewajibanya dan tidak pernah ia lupa memarkirkan gerobak tuanya di samping mesjid itu.
Ketika selesai shalat, ia melanjutkan lagi perjalanannya. Kadang, sudah ada pelanggan yang menunggu di dekat gerobaknya ketika ia baru saja keluar dari mesjid. Itulah Pak de, tidak pernah merasa capek, lelah, dan tetap semangat melayani pelanggan yang datang. dengan logat jawa yang sangat melekat, ia bertanya “bakso dek?, makan di sini, bungkus?” itulah pertanyaan yang selalu ia lontarkan kepada pelanggan yang datang.
Setelah selesai melayani pembeli yang datang, ia melanjutkan perjalanannya menuju gang Ilham yang merupakan tempat biasanya ia mangkal. Di situlah ia duduk beberapa jam menunggu pembeli yang datang ketika malam datang. Dinginnya angin malam yang menusuk tulang, tidak mengalahkan semangatnya. Rasa lelah dan capek tidak pernah ia pedulikan. Malam hari merupakan waktu beristirahat untuk kebanyakan orang. Akan tetapi, tidak untuk Pak de. Pada malam hari itulah merupakan waktu ia mengais rezeki untuk menafkahi anak dan istrinya. Namun, itu semua terbayarkan ketika pembeli yang datang silih berganti. Itu semua dapat membayar rasa lelah dan capeknya.
Banyaknya penghasilan juga salah satu hal yang dapat membayar rasa lelah dan capek ketika berjulalan. Penghasilan yang didapat tidak tetap. “jika pembeli banyak, penghasilannya bisa mencapai Rp 300.000- 350.000,00. Akan tetapi jika pembeli sepi, penghasilan yang didapat hanya Rp 70.000- 100.000,00 “ ucapnya sambil membersihkan sisa sayur dan mie yang berjatuhan ketika ia mengemas pesanan. Berjualan di ruang terbuka seperti itu sangat bergantung pada cuaca. Apabila cuaca lagi tidak bersahabat yaitu hujan. Pak de tidak dapat menjual baksonya dan ia pun tidak mendapatkan penghasilan. “kalau hari hujan dan hujannya cuma gerimis, saya masih berjualan. Kalau hujannya deras, ya,,, pulang, tidak bisa berjualan”, tukasnya.

My Feature News 1


Mengais Rezeki di Alun-alun Kapuas

Pontianak – Mastiah, nenek paruh baya itu (60) tetap menjalakan rutinitasnya sebagai penjual sate. Minggu sore (9/4/2012) di  Taman Alun-alun Kapuas  itulah tempat ia mengais rezeki. Nenek itu tetap semangat mencari rezeki untuk menyambung hidup. Suami tercinta sudah lima tahun meninggal dunia. Ia sudah dua tahun berjualan sate bersama anak lelakinya.
Sore itu terlihat mendung. Awan hitam menggumpal menutupi langit biru. Saya yang baru saja sampai di Alun-alun, berjalan santai mengelilingi taman yang berada di tepian Sungai Kapuas.  Taman ini terletak di Jalan Rahadi Usman atau di depan kantor Walikota Pontianak. Taman Alun-alun Kapuas sering  disebut Korem. Taman Alun-alun Kapuas sudah didirikan dari dahulu, tahun 1999 taman tersebut direnovasi hingga sekarang. Pemerintah tetap mengadakan pembenahan agar pengunjung merasa nyaman. Taman Alun-alun Kapuas merupakan tempat wisata masyarakat.
Ketika saya berjalan, sesekali tercium aroma sate, jagung bakar, jagung rebus, kacang rebus, dan sosis yang digoreng di sepanjang jalan itu. Suasana begitu ramai, semakin senja, semakin ramai pula pengunjung yang datang. Ada yang datang bersama keluarga, ada yang berpasang-pasangan, dan ada juga yang datang teman-teman mereka.
Angin yang bertiup sepoi-sepoi, terasa dingin menyapa kulit. Menambah sejuknya suasana di taman itu. Ditambah lagi, terdapat Sungai Kapuas dengan arus yang tenang memanjakan kesejukan mata yang memandang. Di taman itu juga terdapat replika Tugu Khatulistiwa yang dikelilingi air mancur. Ia akan terlihat lebih indah ketika dilihat pada malam hari. Hal itulah yang membuat orang senang dan betah duduk dan bersantai di sana.
Taman Alun-alun Kapuas itu semakin bertambah indahnya dengan penataan taman-taman kecil yang dikelilingi tempat duduk. Hal yang tidak kalah penting adalah kebersihan taman itu sendiri. Apalagi tempat tersebut ramai penjual dan pengunjung. Akan tetapi, Taman tersebut sudah disediakan tempat sampah agar pengunjung dapat membuang sampah pada tempatnya. Sepanjang perjalanan, saya tidak menemukan sampah. Dengan demikian, pengunjung dan penjual sudah memiliki kesadaran akan kebersihan lingkungan.
Tempat yang sangat ramai dikunjungi orang seperti itu tidak akan pernah sepi oleh penjual. Baik penjual makanan, minuman, pakaian, dompet, jam tangan, bahkan VCD. Kesempatan seperti ini tidak akan dilepaskan oleh penjual begitu saja. Hal itulah yang akan mereka manfaatkan untuk berjualan untuk mengais rezeki. Hampir semuanya ada di jual di tempat itu, bahkan tempat membuat tato. Akan tetapi, itu merupakan usaha dan kerja keras mereka untuk mengais dan menambah pendapatan untuk menghidupi keluarga mereka.
Sambil duduk-duduk di taman yang menghadap ke sungai. Terlihat remaja-remaja yang asyik berfoto-foto. Ada juga keluarga yang sedang bersenda gurau, dan pasangan yang asyik memadu kasih. Ada juga yang menjadikan taman itu sebagai lokasi foto pra wedding. Sejenak perhatianku langsung terpaku pada seorang nenek yang sedang sibuk mengipas-ngipaskan kipas yang terbuat dari bambu. Nenek yang menggunakan baju hijau itu tanpa lelah mengipas sate agar tidak gosong. Nenek itu bernama Mastiah.
Mastiah tinggal di Jalan Pak Kasih bersama anak lelakinya yang bernama Bambang. Bambang sudah mempunyai istri dan tiga orang anak. Suami Mastiah sudah lima tahun meninggal dunia. Mereka hidup dengan sangat sederhana. Mastiah merasa tidak enak hati dengan menantunya tersebut jika hanya berdiam diri di rumah. “die kan udah punye anak tige, bessak dah tanggung jawab tu. Saye pon tag enak hati gag mao’ bediam diri di rumah. Daripade tag ade buat di rumah, bagos jual sate di sini. Hitong-hitong bantu anak la, si Bambang tu”, ujar nenek yang menggunakan jilbab biru itu.
Dalam hati saya berkata, nenek ini sudah cukup tua tetapi ia masih saja memikirkan orang lain dan tetap semangat menjalani hidupnya. Saya salut dan merasa sangat kagum dengan sosok nenek yang berada tepat di depan saya. Pembeli semakin ramai yang datang dan memesan sate. Mastiah dan anaknya terlihat begitu sibuk. Mereka tidak hanya menjual sate tetapi ada es teh, es campur, dan es kelapa muda. Pembeli yang datang dengan berbagai pesanan. Nenek terlihat lelah, tetapi itu semua tidak ia hiraukan. Yang ada dipikirannya, bagaimana cara mendapatkan pembeli yang banyak dan dagangannya habis terjual. Sesekali ia duduk sejenak untuk melepas lelahnya setelah itu langsung melanjutkan kerjanya lagi.
Banyaknya penghasilan yang mereka dapatkan bervariasi. Jika pada hari-hari biasa, penghasilan yang didapat sekitar Rp100.000,00 – Rp150.000,00 akan tetapi, jika pada hari libur, penghasilan lebih banyak sekitar Rp 300.000, 00 – Rp 400.000,00. Hal tersebut dipertegas  oleh Bambang, “kalau hari-hari biase, cume dapat seratos sampai seratos lima puluh. Kalau hari libor, agak banyak siket la, sekitar tige ratos sampai empat ratosan gitu la”, tegasnya.
Batas waktu berjualan mulai pukul 17.00 -24.00 WIB. “ pukul setengah empat udah mulai ngemas-ngemaskan barang-barang dan tenda, jam lima udah siap semue. Lagi pon, jam segitu, udah ramai dah yang datang”, tutur Mastiah. “tapi kalau harinye agy tag bagos, misalnye ujan, baleknye agak awal”, tambah Bambang. Sedikit atau banyaknya pembeli bukanlah masalah besar bagi mereka.

My Straight News 4


Kulminasi Tetap Ditunggu

Tugu Khatulistiwa Tetap Ramai Pengunjung
Pontianak – Jumat siang (23/3), tugu khatulistiwa dipadati pengunjung. Ramainya pengunjung yang datang dikarenakan orang-orang tersebut ingin menyaksikan fenomena alam yaitu titik kulminasi yang terjadi pada jumat siang pukul 11.42 WIB. Suasana menjadi ramai dan menyerukan, teriknya matahari tidak mengalahkan semangat pengunjung yang datang untuk menyaksikan fenomena titiik kulminasi itu.
“titik kulminasi terjadi selama 2 kali dalam satu tahun yaitu pada bulan Maret dan September yang terjadi tepat pada tanggal 22- 23” ujar seorang ibu yang merupakan petugas dari tugu khatulistiwa yang bernama Sutami. Pada tahun-tahun sebelumnya dalam rangka menyambut titik kulminasi selalu diadakan berbagai acara yang diselenggarakan oleh panitia setempat. Dalam acara tersebut juga hadir para pejabat seperti bapak gubernur, bapak bupati, bapak walikota, dan sebagainya.
” untuk tahun ini tidak diadakan acara seperti biasanya dikarenakan bertepatan dengan UAN sekolah, acara tersebut akan diadakan pada bulan September dan akan dihadiri oleh para pejabat” tutur bapak Kasnawi yag merupakan salah satu petugas pemandu wisata UPTD objek wisata kota Pontianak. “jika pada hari-hari biasa, pengunjung yang datang sekitar lima puluh sampai tujuh puluh orang jika pada hari seperti ini yaitu ada fenomen titik kulminasi dan diadakan berbagai acara, pengunjung yang datang sekitar seribu bahkan seribu lebih. Akan tetapi untuk hari ini dari pukul 07.30- 11.25  WIB pengunjung berjumlah 586 0rang” tambah seorang bapak yang menggunakan baju batik biru itu.
Meskipun tidak diadakan berbagai acara seperti tahun sebelumnya, titik kulminasi tetap ditunggu-tunggu oleh pengunjung. Hal ini terlihat dari ramainya pengunjung yang datang ke tugu Khatulistiwa. “ titik kulminasi sudah terjadi dua hari yang lalu tetapi hari ini yang paling banyak pengunjung yang datang” ujar seorang wanita yang merupakan salah satu petugas yang bernama  R. A. Poniati Dewi, S.H., sambil menghitung jumlah pengunjung yang datang berdasarkan buku tamu.
“hari ini titik kulminasinya sekitar pukul 11.49 WIB tetapi tergantung juga dari panasnya sinar matahari, bisa terjadi lebih cepat atau  lama” ujar bapak Kasnawi. Fenomena titik kulminasi selalu ditunggu oleh Pengunjung. Pengunjung yang datang semakin ramai ketika siang hari dan sebagian besar dari pengunjung yang datang ingin menyaksikan kejadian titik kulminasi secara langsung. Pengunjung yang datang ke tugu khatulistiwa dari berbagai kalangan, dari anal kecil, remaja bahkan kakek nenek. Akan tetapi, ada juga beberapa pengunjung yang datang hanya sekadar melihat-lihat tugu asli khatulistiwa yang terdapat dalam suatu ruangan yang menyajikan tulisan dan foto mengenai asal muasal tugu khatulistiwa. Tugu khatulistiwa menjadi ramai dan menyerukan. Ditambah lagi dengan adanya acara puncak yang ditunggu-tunggu pengunjung yaitu titik kulminasi. Tepat pada pukul 11.42 WIB, pada 0o C, titik kulminasi pun disaksikan oleh pengunjung yang datang.

My Straight News 3


Museum Menarik Dijadikan Tempat Bersantai
Museum Tempat Bersantai dan Berfoto Bagi Para Remaja
Pontianak - Selasa (13/3) ramai remaja yang datang berkunjung ke Museum hanya sekadar untuk bersantai menjelang sore hari. Museum terletak di jalan Ahmad Yani. Museum adalah tempat yang menarik dan cocok dijadikan tempat bersantai. Ketika menjelang sore museum diramaikan oleh remaja-remaja yang datang sekadar untuk bersantai dan berfoto-foto.
Menjelang sore hari museum diramaikan oleh remaja-remaja yang datang bersama teman-temannya untuk menghabiskan waktu luang mereka. Mereka hanya duduk santai dan berfoto-foto di reflika-reflika dengan pemandangan yang indah dan menarik. Hal tersebutlah yang membuat mereka tertarik untuk datang ataupun berkunjung ke museum. Ketika mereka tidak ada kegiatan dan ada waktu luang, mereka pun menyempatkan diri untuk memanjakan mata dan pikiran sejenak dengan bersantai-santai sementara menunggu malam datang.
“museum banyak reflika-reflika atau miniatur yang menarik dan pemandangannya juga indah, jadi kita senang datang ke sini untuk duduk santai dan berfoto-foto” tutur Dika yang merupakan salah satu remaja yang berkunjung ke museum. Museum memang menyajikan suasana yang tenang dan hijau membuat mata pengunjung sejuk dan betah duduk berjam-jam meskipun hanya sekadar untuk duduk bersantai bersama teman-teman dan menghabiskan waktu luang bersama.
Museum tidak hanya terdapat reflika-reflika ataupun miniatur, benda-benda kuno tetapi juga terdapat jajanan dan cafe untuk memanjakan mulut bagi pengunjung yang datang. Di sana terdapat beberapa orang yang berjualan jajanan seperti jagung, kacang rebus, dan kacang sangrai. Ada juga yang berjualan minuman dan makanan ringan dengan menggunakan sepeda motor. Pengunjung tidak hanya disuguhkan pemadangan yang indah dan menarik tetapi juga terdapat jajanan yang dapat memanjakan mulut pengunjung ketika berkunjung ke museum.

Minggu, 01 April 2012

My Straight news 2


Balita Mungil Terkunci Di Kamar
Tetanggaku Pahlawanku
Pontianak – Desli (3) balita mungil terperangkap di kamarnya pada Rabu pagi (29/2) di jalan BlKI gang Perintis no 28B. Hal ini disebabkan ia mengunci pintu kamar tetapi tidak tahu untuk membukanya kembali. Suasana pun menjadi panik ketika terdengar tangis balita yang keras dan tersedu-sedu dari dalam kamar tersebut.
Pagi itu rumah Desli tampak sepi, hanya terdengar suara Desli dan neneknya. Sebelum kejadian, Desli main ke rumah kos-kosan mahasiswa yang merupakan tidak lain adalah tetangganya. Kurang lebih setengah jam ia berada di rumah tersebut, ia pun berpamitan untuk pulang dengan gaya bicara seorang anak kecil yang belum pasih berbicara. Setelah itu masih saja terdengar celotehan dari rumahnya itu. “awalnya, Desli hanya bermain-main di kamar sambil menonton televisi, ketika itu saya ingin mandi. Tidak lama kemudian, terdengar suara tangis, yang tidak lain adalah tangis Desli. Setelah saya selesai mandi dengan tergesa-gesa saya langsung melihat kamar tersebut, ternyata kamar sudah tertutup rapat dan terkunci dari dalam. Desli pun menangis sekuat-kuatnya karena ia merasa ia tidak dapat membuka dan keluar dari kamar tersebut. Mungkin ketika Desli asyik bermain di kamar, ia memainkan kunci pintu kamar lalu pintu itu pun terkunci dan ia tidak tahu untuk membukanya kembali” ujar neneknya.
Nenek Desli pun berusaha untuk membuka pintu tersebut tetapi tetap saja gagal. Sampai-sampai neneknya itu mengambil palu dan memukul kunci pintu kamar yang di luar. Dengan maksud menolong cucunya yang terperangkap di dalam kamar. Nenek itu beberapa kali memukul kunci kamar sehingga kunci kamar itu patah dan tetap gagal lagi. Tangis Desli pun semakin kuat dan tersedu-sedu. Sekitar tiga puluh menit ia berusaha untuk mengeluarkan cucunya tetapi cucunya belum juga berhasil di keluarkan. “saya baru ingat dengan tetangga rumah saya. Saya langsung pergi ke rumah tersebut dan mengetuk pintu rumah mereka. Ketika itu, bukan Mellky yang membuka pintu tetapi temannya dan saya pun segara meminta mereka untuk menolong Desli yang terperangkap di dalam kamar” tegas Sedliu (nenek korban).
Melky dan teman-teman pun segara datang dan memberikan bantuan kepada Desli, pertama Melky ingin membuka kuncinya dengan merusak ventilasi kamar tetapi tidak berhasil. Melky masih mencari akal untuk mengeluarkan Desli dari kamar tersebut. Apalagi mendengar tangisan Desli yang sudah terdengar satu jam lalu. Setelah berpikir sejenak, Melky pun menemukan idenya. Ia langsung mendobrak pintu kamar tersebut, dan akhirnya pintu itu pun terbuka. Keluarlah Desli dengan tangis yang tersedu-sedu dan wajah yang merah serta berlinangan air mata.

My straight news 1


Rumah 29B Kembali disantroni Maling
Pontianak, 13 November 2011
Pontianak, Hiviva- Belakangan ini pencurian semakin marak terjadi. Setiap saat kita harus selalu waspada dengan orang-orang di sekeliling kita. Pencuri ada di mana-mana, bahkan dekat dengan rumah ataupun lingkungan tempat tinggal kita. Seperti halnya pencurian di rumah 29B  jalan BLKI Gang Perintis, yang dilakukan oleh dua orang pelaku, yang terjadi pada hari Senin (12/11/2011) pukul 08.30 WIB. Pencurian itu terjadi karena pintu belakang rumah yang tidak terkunci. Pencuri itu menggasak 1 buah laptop dan 3 buah handphone. Pencuri itu masuk melalui pintu belakang yang tidak terkunci dan masuk ke kamar yang terdapat laptop dan handphone. Suasana di rumah 29B kembali panik dan cemas karena dikejutkan oleh dua orang pencuri yang baru saja menggasak barang-barang berharga milik mereka.
Pencuri kembali lagi mengusik ketenangan penghuni 29B dengan menggasak barang-barang berharga milik mereka. Pencurian ini adalah pencurian yang kedua kalinya. Pencurian itu terjadi disebabkan oleh pintu belakang yang tidak dikunci. Dari pintu belakang itulah pencuri itu masuk ke rumah mereka. Tepat pada pagi Senin, pukul 08.30 WIB, Novi (mahasiswa) baru saja selesai mencuci pakaiannya. Dan seorang temannya (Nr) sedang mandi. Pintu belakang tidak dikunci Novi karena ia hanya masuk sebentar ke ruang tamu untuk mengambil penyapu, tiba-tiba saja ia mendengar suara sepeda motor tapi kedengarannya sangat pelan.
Lalu Novi pun mengintip dari jendela kaca ruang tamu. Saat itu ia melihat sebuah sepeda motor mio berwarna ungu dan seorang laki-laki sedang duduk di teras rumahnya sambil mengetik handphonenya. Kemudian Novi membangunkan kawannya (Sh) yang sedang tidur di kamar paling depan, dan memberitahukan bahwa ada orang di teras rumahnya. Mereka berdua pun mengintip dari jendela kaca dari kamar tersebut. Setelah beberapa menit mereka megintip orang yang duduk di teras, terdengar suara jejak kaki orang yang sedang berjalan dari samping rumah mereka.
Novi mengira itu jejak kaki temannya yang baru selesai mandi. Lalu Novi pun keluar dari kamar, ia langsung mengintip dari jendela dan dilihatnya orang berjaket hitam yang merupakan kawanan dari orang yang duduk di teras itu menyalakan sepeda motornya dan membawa tas yang berisi laptop. Novi pun langsung berteriak bahwa pencuri baru saja menggasak laptop. Yang lebih menyedihkan Laptop itu bukanlah miliknya melainkan  milik temannya (Bq) yang menitipkan laptopnya kepada Novi. Mendengar teriakan Novi, temannya yang tidur dan yang baru saja selesai mandi pun terkejut. Novi langsung memberitahukan bahwa pencuri baru saja masuk dan menggasak laptop di rumah mereka. Mereka semuanya panik dan cemas. Beberapa menit kemudian Novi teringat dengan Handphonenya, ternyata pencuri itupun menggasak 2 buah handphone Novi dan 1 buah Handphone temannya (Nr). Menurut warga setempat, lingkungan tempat tinggal mereka memang sering terjadi pencurian. Jadi ketika mereka lengah, pencuri itu langsung beraksi.